Pria ini Menangis di Malam Pertamanya, Alasannya Bikin Pria Lain Mikir Jika Mau Menikah
Pria ini Menangis di Malam Pertamanya, Alasannya Bikin Pria Lain Mikir Jika Mau Menikah
kisah berikut sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita, entah disadari atau tidak. Padahal, banyaknya kasus serupa seharusnya bisa dijadikan pelajaran, karena hikmah kehidupan tak melulu berupa pelajaran yang dilalui sendiri. Peristiwa di sekitar kita seharusnya membuat kita cukup peka untuk tidak melakukan kesalahan serupa.
Sebagai pengantin baru, kedatangan pria ini disambut dengan gempita oleh rekan-rekannya di pengajian. Tak ketinggalan, ustadznya pun menyambut dengan wajah penuh kebahagiaan. Namun, wajah pria yang masih pengantin baru itu justru diliputi kesedihan. Di hadapan sang ustadz, dan kawan-kawan dekatnya ia menuturkan kisahnya.
Hari itu, hari yang penuh kebahagiaan, ketika ia dan sang istri didaulat menjadi raja dan ratu sehari. Istrinya tampak cantik memukau, ia pun tampak gagah lagi menawan. Pestanya meriah, undangan berjubel, makanan melimpah ruah. Semuanya tampak sempurna dan indah.
Namun, saat semua tamu dan keluarga sudah pulang. Ia justru menangis di kamar pengantinnya. Bukan karena istrinya tak seperti yang diharapkannya, bukan, sama sekali bukan.
Pria itu tertunduk lesu, kesenangan malam pertama tak sanggup menghilangkan kegundahannya. Pesta pernikahan mewah yang dilangsungkannya ternyata menyisakan tumpukan hutang diluar kemampuannya untuk membayar.
Rasanya hidup pernikahan yang seharusnya semanis madu, tampak gelap gulita dengan beban hutang yang membayangi masa depannya.
Pria itu menyesal mengikuti gengsi keluarga. Ia terlambat menyadari bahwa keberkahan pernikahan bukan dari seberapa 'wah' pesta pernikahannya namun keberkahan itu bermula dari niat dan tujuan pernikahan serta cara yang ditempuh dalam pernikahan itu sendiri.
kisah pria ini mungkin mewakili banyak kisah serupa lainnya. Demi mengikuti tuntunan kehidupan sosial, gengsi keluarga, ataupun adat yang tak sesuai syariat, banyak orang yang terjebak dalam hutang besar demi menjadikan hari pernikahannya sebagai hari yang 'istimewa'.
Sejatinya, membangun kehidupan baru memerlukan banyak kesiapan lahir batin, jika segala upaya kita telah habis tercurah untuk melunasi hutang menumpuk akibat resepsi pernikahan, maka kebahagiaan apa yang tersisa?
Bukankah kita menikah karena menginginkan kebahagiaan, dan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah? Maka, kurangilah gengsi dan fokuslah membangun keluarga yang bahagia, tentunya yang bebas jeratan hutang sisa resepsi!
Semoga bermanfaat untuk semua orang yang harus di sadari !!

Komentar
Posting Komentar