Usai Melahirkan Istri Menerima Sebuah Pesan di Ponsel Suaminya, Setelah Dibuka, Ternyata
Usai Melahirkan Istri Menerima Sebuah Pesan di Ponsel Suaminya, Setelah Dibuka, Ternyata
3 tahun lamanya aku menjalin hubungan dengan lelaki yang kini telah menjadi suamiku. Yah, kami berpacaran secara LDR lalu memutuskan untuk menikah.
Setelah menikah pun kami masih harus berpisah karena suami bekerja di luar kota, Tegal lebih tepatnya. Aku tak bisa ikut dengannya karena juga terikat dengan pekerjaan di Bekasi. Namun, dia berjanji, suatu saat akan pindah dan hidup bersamaku.
Dalam keadaan demikian kami sepakat untuk selalu bertemu dua Minggu sekali. Setiap dia pulang semua terlihat baik-baik saja. Aku sangat percaya padanya; dia lelaki yang baik, shaleh, dan bertanggung jawab. Setidaknya, begitulah anggapanku selama ini.
Berlalu satu tahun pernikahan kami, aku akhirnya mengandung. Hingga tiba masa melahirkan, aku agak sedikit kecewa karena suami tak bisa menemani detik detik menegangkan itu. Yah, karena dia memang di luar kota. Perlu sedikit lebih lama untuk menemuiku di rumah sakit.
Usai kelahiran si buah hati, aku merasa rumah tangga kami telah sempurna. Tentu saja, kebahagiaan itu tak bisa disembunyikan.
Sayangnya, semua berubah saat hari itu. Tepatnya, 47 hari setelah operasi sesarku dan sehari sebelum aqiqah anak kami.
Suamiku sengaja mengambil cuti beberapa hari agar bisa hadir di momen bahagia ini. Saat itu dia sedang keluar dan tanpa sengaja meninggalkan HP-nya---mungkin itu memang kehendak Allah, agar aku mengetahuinya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk. Isinya benar-benar membuat aku terkejut. Seolah-olah bagai disambar petir di siang bolong.
"Alhamdulillah Pak Ustadz besok anak saya mau aqiqahan usianya 1,5 bulan dan yang di Tegal bulan depan 1 tahun." Kira kira demikian isi pesannya.
Aku mencoba untuk berbaik sangka dan bertanya setelah dia pulang.
Awalnya dia tak mengaku dan terus mengelak, tapi setelah kupaksa untuk jujur dan mengungkapkan semuanya dia akhirnya bicara. Hingga aku sangat terluka dan sakit hati mendengar pengakuannya.
Dia mengaku sudah menikah dengan perempuan lain secara siri. Wanita itu perawan tua dan pernah satu kantor dengannya. Yah, memang usianya terpaut jauh.
Mereka menjalin hubungan diam-diam hingga si wanita hamil. Mau tidak mau suamiku harus bertanggung jawab karenanya. Buruknya, hal itu terjadi 3 bulan setelah pernikahan kami. Seakan kabar ini menghilangkan kewarasanku.
Kukira, semuanya selesai setelah pengakuan itu. Ternyata masih ada satu hal lagi yang membuatku sangat terluka. Bagaimana tidak? Orang tua dan kakaknya sudah mengetahuinya, bahkan menjadi saksi di hari pernikahannya. Sedang aku adalah orang terakhir yang tahu kebenaran ini.
Aku murka. Rasanya setiap sisi hati remuk, dada terasa tercabik-cabik, air mata tumpah ruah. Malang niam perjalanan hidupku.
Kupinta dia untuk menelepon dan menceraikan wanita itu. Namun, sang wanita malah marah marah dan tak terima. Kulihat jua, suamiku lebih condong padanya daripada diriku.
Aku akhirnya mengalah. Semua proses berjalan cepat, seketika statusku berubah menjadi janda. Awalnya semua terasa sesak dan menyakitkan. Seiring berjalannya waktu aku mulai paham, bahwa inilah jalan terbaik..

Komentar
Posting Komentar